Upacara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut dipimpin oleh Kadivhubinter Polri Brigjen Pol Dr. Untung Widyatmoko, S.I.K., M.H., selaku Inspektur Upacara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembekalan dan persiapan personel Polri sebelum menjalankan misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Afrika Tengah.
Sejumlah pejabat Polri dan unsur Forkopimda turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakapolda DIY Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K., Kasatgas FPU 8 MINUSCA Kombes Pol Alex FL. Tobing, S.I.K., M.M., Dansat Brimob Polda DIY Kombes Pol Gunawan Tri Laksono, S.I.K., serta Bupati Bantul H. Abdul Halim Muslih.
Turut hadir Wakapolres Bantul Kompol Citra Fatwa R., S.Sos., S.I.K., M.M., M.I.K., Kasdim 0729/Bantul Mayor Cba Suryadi, Panewu Kretek H. Cahya Widada, S.Sos., M.H., Kapolsek Kretek AKP Joko Mulyono, serta sejumlah pejabat Polda DIY, Divhubinter Polri dan unsur terkait lainnya.
Peserta kegiatan terdiri atas 150 personel Pre-Deployment Training Kontingen Garuda Bhayangkara Satgas FPU 8 MINUSCA. Mereka berasal dari satuan kerja Mabes Polri maupun kewilayahan, terdiri dari 26 polisi wanita (Polwan) dan 124 polisi laki-laki (Polki).
Selain itu, kegiatan juga diikuti 19 peserta 4th Training of Trainer (ToT) FPU Course. Sebanyak 17 di antaranya merupakan polisi asing dari Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Nepal, Tiongkok, Timor Leste dan Vietnam, serta masing-masing satu personel dari Polres Magelang dan Gegana Korps Brimob.
Kehadiran peserta dari berbagai negara tersebut memberikan nuansa internasional dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain menjadi bagian dari peningkatan kapasitas dan kemampuan personel dalam mendukung misi pemeliharaan perdamaian PBB, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kerja sama kepolisian antarnegara.
Para peserta mancanegara berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan personel Polri maupun masyarakat selama mengikuti rangkaian kegiatan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai karakteristik sosial, budaya dan lingkungan di Indonesia, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama internasional di bidang peacekeeping.
Pemilihan sejumlah lokasi di wilayah DIY, khususnya Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul, juga memberikan nilai tambah tersendiri. Rangkaian kegiatan tidak hanya dilaksanakan dalam konteks pelatihan, namun sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta kepada para peserta dari berbagai negara.
Kawasan Parangtritis dan Gumuk Pasir menjadi salah satu destinasi yang diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Dengan mengikuti kegiatan di ruang terbuka dan kawasan wisata, para peserta dapat secara langsung mengenal salah satu ikon wisata pesisir Kabupaten Bantul yang memiliki karakteristik alam dan budaya yang khas.
Selain memperkenalkan destinasi wisata, rangkaian kegiatan juga diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan sosial berupa aksi bersih-bersih pantai di kawasan pesisir Bantul.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian peserta terhadap kelestarian lingkungan sekaligus mengajarkan nilai bahwa tugas peacekeeper tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan operasional, tetapi juga memiliki dimensi kemanusiaan, kepedulian sosial dan penghormatan terhadap lingkungan tempat mereka menjalankan kegiatan.
Keterlibatan peserta mancanegara dalam kegiatan sosial dan pengenalan destinasi wisata tersebut juga diharapkan dapat memberikan kesan positif tentang Indonesia. Para peserta nantinya dapat menjadi bagian dari jejaring internasional yang membawa pengalaman selama berada di Yogyakarta ke negara masing-masing.
Dalam rangkaian upacara tersebut dilakukan tradisi pembaretan. Perwakilan peserta menerima pemasangan baret dari Inspektur Upacara, yang selanjutnya diikuti pemasangan baret kepada peserta oleh para pejabat utama Divhubinter Polri dan tamu undangan.
Setelah prosesi pembaretan, dilakukan penyematan Brevet Peacekeeper Polri kepada personel Kontingen Garuda Bhayangkara Satgas FPU 8 MINUSCA oleh Inspektur Upacara dan instruktur. Prosesi tersebut dilanjutkan dengan tradisi penghormatan Peacekeepers Polri kepada para instruktur.
Dalam amanatnya, Brigjen Pol Dr. Untung Widyatmoko menyampaikan apresiasi atas perjuangan para peserta yang telah menjalani persiapan selama kurang lebih enam bulan. Persiapan tersebut meliputi latihan fisik, taktis, kemampuan bahasa hingga berbagai pembekalan pendukung lainnya.
Ia juga memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Jalan Juang yang ditempuh peserta selama empat hari dengan jarak puluhan kilometer, baik siang maupun malam.
"You overcame all challenges!" ujar Brigjen Pol Untung, menggambarkan keberhasilan peserta melewati berbagai tantangan, kelelahan, tekanan dan ketidakpastian selama pelaksanaan latihan.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi gambaran tantangan yang akan dihadapi para personel ketika berada di daerah misi. Oleh karena itu, ketahanan fisik dan mental, disiplin, kerja sama, kemampuan mengambil keputusan serta profesionalisme menjadi modal penting dalam menjalankan tugas sebagai peacekeeper.
Brigjen Pol Untung juga menegaskan bahwa keikutsertaan Polri dalam misi perdamaian dunia merupakan bagian dari amanat konstitusi, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Ia menyebut Indonesia saat ini menjadi salah satu kontributor utama dalam penugasan peacekeeper Polisi dan Militer pada misi PBB. Sejak 1989, Polri telah menugaskan ribuan personel dalam misi pemeliharaan perdamaian, termasuk personel Formed Police Unit (FPU) dan Individual Police Officer (IPO).
Kepada para personel, Brigjen Pol Untung berpesan agar senantiasa menjaga integritas, mematuhi mandat PBB, menjunjung tinggi disiplin dan menjaga nama baik Indonesia serta Polri selama menjalankan tugas di luar negeri.
"Keberhasilan misi tidak hanya diukur dari kemampuan operasional, tetapi juga dari integritas dan kemampuan menjadi representasi Indonesia yang baik," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa para peacekeeper akan bekerja dalam lingkungan multinasional bersama personel dari berbagai negara dan budaya. Karena itu, sikap profesional, dewasa, toleran dan kemampuan membangun teamwork harus terus dijaga.
Kepada peserta polisi asing yang mengikuti 4th ToT FPU Course, Brigjen Pol Untung menyampaikan apresiasi atas kepercayaan negara-negara peserta kepada Polri sebagai mitra dalam meningkatkan kemampuan personel di bidang peacekeeping.
"Baret dan brevet ini bukan sekadar simbol, tetapi merupakan pengakuan atas perjuangan, kesiapan menghadapi tugas dan tanggung jawab sebagai peacekeeper," ujarnya.
Kegiatan Tradisi Pembaretan dan Penyematan Brevet Peacekeeper tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada 6 hingga 11 September 2026 di wilayah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya DIY kepada peserta, khususnya peserta mancanegara. Melalui perpaduan kegiatan pelatihan, interaksi lintas budaya, kegiatan sosial dan pengenalan destinasi wisata, diharapkan tercipta pengalaman positif yang dapat memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang aktif dalam misi perdamaian sekaligus memiliki kekayaan budaya, pariwisata dan kepedulian terhadap lingkungan.
Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan unsur Bagdamkeman Romisinter Divhubinter Polri, instruktur nonorganik serta fasilitator dari Polda DIY, termasuk Satbrimobda, Biddokkes, Bid TIK, Yanma, Polres Bantul dan Polres Gunungkidul.











.jpeg)





